UP Klarifikasi Broadcast Hoaks yang Sebut Lagunya Berbayar Jika Diputar untuk Streaming Ibadah Isak Pasabuan

UP Klarifikasi Broadcast Hoaks yang Sebut Lagunya Berbayar Jika Diputar untuk Streaming Ibadah Isak Pasabuan

Insight Unlimited Publishing yang diwakili oleh Chika Mariana sebagai bentuk tanggapan atas surat edaran yang sedang ramai diperbincangkan terkait hak cipta, menggelar pertemuan secara vitual dengan media massa rohani baik radio, online dan televisi, pada Jumat (15/10/2021)

Pertemuan tersebut terkait pembahasan streaming license untuk pemakaian lagu yang berhak cipta pada ibadah online.

Acara ini mengundang dua pembicara lainnya yaitu Ps. Gea Denanda mewakili gereja JPCC  (Jakarta Praise Community Church) dan JPCC Worship serta Franky Kuncoro mewakili Worship Leader sekaligus penulis lagu.

 

Pengertian Publisher, Streaming License dan cara mendapatkan Streaming License

Chika Mariana membuka pertemuan dengan memaparkan penjelasan mengenai Insight Unlimited Publishing (IUP) adalah sebagai publisher, kepada pihak media Chika bercerita, music publisher atau penerbit lagu adalah perusahaan yang mengeksploitasi, mengadministrasi, memproteksi dan mengelola hak cipta lagu. Dan sebagai badan usaha yang berbasis hukum di Indonesia, IUP telah di percaya atau di berikan kuasa oleh pencipta lagu untuk dapat mengeksploitasi dan menjaga karya mereka untuk menghindari penyalahgunaan.

Chika mengatakan semenjak pandemi, gereja menghadapi tantangan yaitu bagaimana agar tetap terhubung satu sama lain, dan mulai mempertimbangkan untuk memperggunakan media yang ada agar dapat terus bisa melakukan ibadah, salah satunya adalah dengan ibadah online menggunakan platform umum “YouTube”.

Namun beliau menegaskan sebaiknya gereja memperhatikan dengan cermat saat menyiarkan langsung ibadah gereja secara online atau membagikan ibadah online yang telah direkam sebelumnya, yaitu memastikan apakah nyanyian pujian yang dinyanyikan memiliki ijin penggunaan atas hak cipta, sehingga gereja atau pihak yang menggunakan layanan streaming terhindar dari kompilasi hukum dimasa depan.

Inilah yang menjadi latar belakang IUP menerbitkan streaming license sebagai ijin khusus, bahwa pihak tersebut sudah mendapat atau sudah meminta ijin dari pihak yang berwenang, hal ini membantu gereja agar ibadahnya dapat menggunakan YouTube tanpa mendapat notifikasi, sebab YouTube sebagai platform media alternatif video terbesar didunia memiliki fitur yang dapat mengindentifikasi apakah konten tersebut memiliki materi yang berhak cipta.

Chika kembali menegaskan streaming license spesifik bicara soal ibadah yang disiarkan khususnya melalui platform umum, maka untuk ibadah offline digereja, ibadah atau komsel via zoom tidak memerlukan streaming license. Jadi selama sifatnya disiarkan sebaiknya gereja mengurus ijinnya.

Berikutnya, Chika memberikan panduan prosedur yang diperlukan untuk mendapatkan streaming license, untuk tahap awal sebagai bentuk dan bagian dari IUP mengedukasi, gereja bisa menggunakan lagu yang berada dalam katalog IUP selama 3 bulan tanpa biaya. Selanjutnya setelah 3 bulan gereja dapat memilih untuk tetap melanjutkan berlangganan dengan nilai investasi tertentu atau sudah cukup terfasilitasi dengan 3 bulan tersebut.  Apabila gereja memutuskan untuk tetap berlangganan maka akan ada investasi dan administrasi yang perlu diurus dan dihitung berdasarkan jumlah jemaatnya karena tidak bisa dipukul rata.

Apabila gereja memiliki keterbatasan kemampuan terkait nilai investasi yang IUP terapkan, namun tetap ingin melakukan hal yang benar dengan meminta ijin dalam penggunaan lagu, Chika melanjutkan maka pihak gereja dapat menghubungi pihak IUP kembali untuk informasi selanjutnya.

Gereja Tuhan harus yang bergerak pertama kali untuk mengapresiasi setiap karya cipta

Sementara Ps. Gea Denanda mewakili gereja JPCC dan JPCC Worship memaparkan alasan mendaftar streaming license dan mempercayakan lagu dan karya mereka pada IUP, karena sebagai gereja perlu memiliki hati untuk membantu tubuh Kristus dan seharusnya ada untuk satu sama lain. Salah satu alasan JPCC terus berkarya dengan teman-teman dari JPCC Worship dalam menulis lagu adalah ingin memberkati tubuh Kristus karena seringkali lagu-lagu penyembahan ini yang Tuhan pakai untuk menjangkau orang untuk percaya Tuhan.

Gea menilai gereja yang tahu tentang kebenaran harus menjadi yang pertama untuk melindungi, memperhatikan dan mengapresiasi setiap hak cipta teman-teman penulis lagu, karena setiap lagu yang ditulis itu erat dengan penulisnya dan secara hukum dilindungi oleh undang-undang hak cipta. Oleh sebab itu JPCC dan JPCC Worship mempercayakan kepada IUP untuk membantu yang memang perannya adalah music publisher. Dengan demikian membuat teman-teman yang menciptakan lagu merasa aman dengan hak ciptanya dan terus semangat untuk tetap berkarya.

Terkait isu yang fenomenal sekarang, apalagi ada hal-hal yang kurang tepat dan diluar porsinya, Gea mengemukakan pandangan beliau. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengedukasi tentang pemahaman hukum pada gereja, agar memiliki pengertian yang benar, walau membutuhkan usaha dan waktu yang lebih banyak hingga pengertian ini bisa sampai ke semua kalangan.

Pencipta lagu perlu memilih Music Publisher yang tepat

Sebagai worship leader dan song writer Franky Kuncoro yang namanya dikenal lewat lagunya yang berjudul “Kemenangan Terjadi Disini” dalam pertemuan ini menjabarkan alasan mengapa beliau mempercayakan karya-karyanya yang telah dikeluarkan kepada pihak IUP sebagai music publisher.

Franky terlebih dahulu menjelaskan bahwa untuk melahirkan sebuah karya cipta perlu melewati proses yang seringkali tidak mudah dan ada harga yang harus dibayar. Lewat pengalamannya beliau menceritakan pertama kali menulis lagu saat berumur 13 tahun, namun setelah 21 tahun kemudian dari banyaknya album yang telah dibuat baru 1 lagu yang akhirnya bisa menjadi berkat yang luar biasa, yaitu lagu “Kemenangan Terjadi Disini”.

Dan secara pribadi Franky mengungkapkan punya keterbatasan dalam pengelolaan atas hak cipta, namun penting bagi penulis lagu untuk memilih music publisher yang tepat untuk mengelola hak atas ciptaannya.  karena itu beliau mempercayakan karyanya kepada tim IUP sebagai penerbit lagu untuk membantu memproteksi sehingga tidak disalah gunakan oleh orang lain.

Menurutnya IUP sebagai music publisher mempunyai kompetensi pengetahuan tentang hak cipta itu sendiri, dan mengerti pencipta lagunya sehingga sangat senang dapat bekerja sama dengan mereka, selain itu mereka bekerja dengan profesional sangat transparan dan jelas terhadap laporan yang dibuat. Franky melanjutkan jika IUP adalah partner yang tepat untuk publishing.

Selanjutnya Franky menjelaskan pandangan pribadinya mengenai platform umum YouTube, yaitu seperti bisnis pada umumnya, YouTube bersifat komersial dan iklan bukan satu-satunya sumber pendapatannya, platform digital ini juga menawarkan layanan berbasis langganan yaitu YouTube Premium yang sebelumnya dikenal sebagai YouTube Red. Dan sesuatu yang baik jika pendapatan dari YouTube dapat digunakan untuk kemuliaan Tuhan, untuk melahirkan karya bukan untuk memperkaya diri  tetapi yang dihasilkan dapat memberkati dan memperkaya yang lain.

Franky menekankan sangat dibutuhkan kerjasama untuk mendukung program streaming license sebagai bukti kita menghargai hasil karya orang lain.

Pada akhir acara sebagai penutup Chika mengemukakan harapannya, dalam pernyataannya ia berharap pertemuan ini dapat menjawab kesimpangsiuran kabar mengenai informasi terkait streaming license pada hak cipta lagu rohani dalam pemberitaan media komunikasi baru-baru ini.

ON SITE

ON LINE

Musik gereja adalah suatu jenis musik yang berkembang di kalangan Kristen (juga pada zaman sebelum kekristenan: Yahudi), terutama dilihat dari penggunaannya dalam ibadah gereja.Seorang tokoh musik gereja, Mawene (seorang Teolog Perjanjian Lama dari Indonesia, tetapi juga memberi perhatian dalam Musik Gereja), dalam bukunya Gereja yang Bernyanyi menyebutkan musik gereja merupakan ungkapan isi hati orang percaya (Kristen) yang diungkapkan dalam bunyi-bunyian yang bernada dan berirama secara harmonis, antara lain dalam bentuk lagu dan nyanyian. Sama dengan musik secara umum, dua unsur; vokal dan instrumental harus diperhatikan, dan terkhusus dalam bermusik di gereja yang sarat dengan makna teologis dan berkenaan dengan iman umat, dua hal itu sangat penting untuk disajikan secara tepat agar umat mampu menghayati imannya dengan bantuan musik.

Pentingnya musik gereja

  • Musik sangat penting dalam ibadah gereja, sebab sebagian besar porsi ibadah gereja memiliki unsur musik, baik vokal maupun instrumental. Begitu pentingnya musik di dalam gereja, sehingga Martin Luther, tokoh gereja protestan era reformasi menyatakan bahwa gereja yang baik adalah gereja yang bernyanyi.
  • Makna musik dalam ibadah gereja dalam istilah lain dalam liturgi gereja adalah ungkapan simbolis perayaan iman jemaat gereja. Perayaan iman yang dimaksud adalah penghayatan terhadap misteri dalam agama Kristen dalam diri Kristus sebagai sosok penyelamat yang benar-benar menyentuh perasaan umat dalam nyanyian. Hubungan musik dan liturgi (seharusnya) bersifat harmonis, yaitu keseimbangan yang pas antara musik dan penghayatan iman menjadi tidak terpisahkan.
  • Unsur musik dalam gereja seharusnya memiliki keterkaitan dengan gereja dalam hal pengembangan kehidupan spiritualitas, sumber daya, organisasi gereja, mentalitas, keahlian, integritas keteladanan umat beriman yang harus senantiasa dipikirkan oleh gereja sebagai organisasi. Dengan begitu musik menjadi alat teologi dalam mendidik umat yang bertujuan mencerdaskan umat untuk berperilaku yang baik sesuai ajaran gereja.

Fungsi musik gereja dan nyanyian jemaat

Gereja Bernyanyi

 Sanitatis Casanatensis (Abad 14).

Fungsi musik gereja sangat jelas, yaitu untuk memuliakan Allah. Selain itu dampak baiknya dalah memberikan pendidikan kepada warga jemaat dengan nyanyian, hal ini juga mencerminkan jenis perkembangan teologis yang sedang berlangsung dalam gereja tersebut.Melalui musik yang terjadi dalam sebuah liturgi (ibadah), umat mampu berefleksi dalam kehidupannya.Fungsi musik gereja yang lain di dalam liturgi adalah melayankan ibadah secara sederhana, tetapi pantas dan bermutu tinggi.Nyanyian jemaat hanya berfungsi di dalam ibadah, sedangkan ketika dinyanyikan di luar gereja menjadi berkurang bahkan hilang fungsinya.Hal ini terjadi karena salah satu aspek nyanyian jemaat sebagai bentuk penggembalaan atau pastoralnya menjadi tidak berbobot lagi.

Ada tiga hal secara historis yang melahirkan fungsi nyanyian jemaat di dalam liturgi:

  • Nyanyian dalam liturgi merangkai unsur-unsur liturgi secara berkaitan, sehingga jika rangkaian itu hilang maka fungsinya menjadi hilang.Dalam hal ini syarat nyanyian jemaat harus disajikan secara dilihat dari teologi dan praktiknya.
  • Nyanyian Jemaat sebagai simbol dari iman dan pengajaran, syair dan musik menjadi sangat penting dalam menyampaikan pesan pemberitaan firman.
  • Nyanyian Jemaat memperoleh maknanya dalam pelayanan liturgi.

Musik gereja dan tugas gereja

Musik gereja dan nyanyian jemaat menjadi salah satu alat untuk mengantarkan umat menyadari tugasnya sebagai orang beriman dalam tiga hal; Koinonia, Marturia, Diakonia.

  • Koinonia adalah tugas untuk bersekutu, saling memperhatikan, dan berkumpul dalam memuji Tuhan dalam kehidupan bersama.
  • Marturia adalah tugas di mana seorang Kristen harus memberitakan (menjadi saksi) kebaikan Tuhan seperti yang terdapat dalam Injil dengan perbuatan baiknya, hal ini juga harus menjadi pesan dari Nyanyian Jemaat.
  • Sedangkan Diakonia adalah tugas dalam saling melayani satu dengan yang lain, kepada sesama secara universal, yaitu manusia dan alam cipataan.

Sejarah musik gereja

Pembagian ini ditulis dalam buku Sejarah Musik jilid 1 sampai 4 oleh Karl Edmund yang diterbitkan oleh Pusat Musik Liturgi di Yogyakarta.

Simbol dari musik yang ada pada Zaman Daud (Kecapi) yang ada di Yerusalem

  • Musik zaman kuno ( sampai abad 4)

Musik zaman kuno bisa diketahui dari benda-benda purbakala dan alat-alat musik yang ditemukan.Misalnya, patung, shofar, nafiri,harpa-harpa, kecapi, mandolin, lyra, seruling, tambur kemudian ukiran di batu tentang ibadat di Mesir. Sedangkan pada tradisi Yahudi sendiri bisa diketahui dari teks-teks Alkitab.

Misalnya dalam teks Keluaran 19:16-19, Yosua 6:8-9. 20, Hakim-hakim 5; ditemukan beberapa aktivitas yang menggunakan alat musik seperti sangkakala, bermazmur, kecapi, gambus, disebut juga ada nyanyian-nyanyian.Bahkan ada jenis musik yang bisa diketahui yaitu musik Kenisah(abad 10-6SM) dan musik Sinagogel (500SM)Kemudian perkembangannya diketahui terjadi di Yunani pada masa klasik hellenisme dan pada abad-abad awal masehi yang sudah terdapat musik gregorian yang diusung oleh para musisi termasuk bapa gereja.

  • Musik Zaman Gereja Purba

Musik zaman Gereja Purba merupakan musik zaman abad awal gereja. Ada banyak tipe nyanyian jemaat yang dinyanyikan. Salah satu yang terkenal adalah kantika Lukas. Injil Lukas menjadi sebuah dasar teks bagi empat kantikal utama pada peribadahan Kristen pada saat itu. Kantikal yang pertama adalah Magnificat. Nyanyian Magnificat merupakan nyanyian pujian Maria karena ia mengandung bayi Yesus (Lukas 1:46-55). Kantikal yang kedua adalah Kantikal Gloria in Excelsis Deo. Nyanyian ini merupakan nyanyian yang disadur dari teks Lukas 2:14, yaitu teks yang menceritakan malaikat Allah memuji Tuhan atas kelahiran Yesus. Kantikal yang ketiga adalah Kantikal Benedictus. Nyanyian Benediktus merupakan nyanyian yang berasal dari teks Lukas 1:68-79. Nyanyian ini merupakan nyanyian Zakaria atas peristiwa kelahiran anaknya, Yohanes pembaptis. Kantikal yang keempat adalah Kantikal Nunc Dimittis. Kantikal ini merupakan nyanyian yang disadur dari teks Lukas 2:29-32. 

Musik zaman pertengahan biasanya dikaitkan dengan kejatuhan Romawi (476) sebagai pembukaannya.Pendapat lain mengatakan dimulai semenjak ada perubahan besar dalam kebudayaan klasik Yunani maupun Romawi, perpindahan bangsa-bangsa tepatnya berbagai suku Jermania dari Eropa Timur ke Eropa Barat.Penutupan abad pertengahan juga ada perdebatan, bahkan terkadang hingga abad 16 yang ditandai oleh tokoh-tokoh polifoni seperti Palestrina (1525-1594) serta Orlando di Lasoo (1532-1594). Setidaknya terdapat dua gaya musik bukan hanya menurut estetik serta bantuk lahirnya, tetapi juga karena perkembangannya.Bentuk-bentuk musiknya: drama liturgi, gregorian, tipe litani (berbalasan dilakukan dalam ibadah), tipe sekuensi, kanzone, rondo. Musik polifon pada abad 9-11 konon dimulai dari Islandia dan Norwegia. Perkembangan lain adalah sudah adanya sekolah-sekolah musik, organum baru, sudah ada notasi musik juga berkembang.

Sebuah notasi dari Kidung Gregorian

Musik zaman Renaissance diawali dengan perkembangan seni di Italia, disebut juga masa anti purbakala. Istilahnya sendiri dipakai baru pada abad 15-26, bersamaan ditemukan bukti-bukti sejarah tentang Columbus, Gutenberg, lalu disusul oleh masa reformasi (zaman tokoh Martin Luther dan Yohanes Kalvin) di mana terdapat pembaruan gereja yang menandakan ciri musik religius.Musiknya sendiri ditandai oleh beberapa bentuk; motet, ordinarium missae, nyanyian offinsi, madrigal, birama dsb. Perkembangan musik bukan hanya terjadi di Italia, tetapi juga banyak negara lain, Inggris, Spanyol, Prancis. Musik Koral yang terkenal dari tradisi gereja juga muncul, dikarang oleh Martin Luther sebagai tokoh terkenal dalam reformasi.

  • Musik Barok (1600-1750)

Musik yang juga diambil dari tradisi tari-tarian yang menjadi seni rakyat

Musik zaman Barok adalah dianggap mewakili zaman yang sangat rumit dalam berbagai hal, mulai melodinya, bentuk-bentuk musiknya dan warna musiknya. Istilah barok sendiri sebenarnya muncul dalam buku Ensiklopedi karya Denis Diderot pada tahun 1750.Bentuk-bentuk musik yang berkembang pada masa ini adalah opera, oratorio, musik kamar dan instrumentalia.Musik gereja berkembang di Italia, Jerman dan Austria.Gereja dengan beberapa tradisi; Katolik, protestan, Anglikan (Inggris).Kemudian musisi yang sangat terkenal adalah J.S Bach (1685-1750), Handel Antonio Vivaldi, Alessandro Scarlatti dsb.Zaman musik Klasik ini berlangsung pada tahun 1760 – 1820 yang berpusat pada tiga komponis besar; Joseph Haydn (1732-1809), Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) dan Ludwig Van Beethoven (1770-1827) Musik yang berkembang adalah jenis musik vokal, musik opera

  • Musik Zaman Klasik (1750-1820)

Musik Klasik adalah karya seni musik yang sempat mengintikan daya ekspresi dan bentuk bersejarah sedemikian hingga terciptalah suatu ekspresi yang meyakinkan dan dapat bertahan terus, hal ini menurut Friedrich Blume. Dapat diketahui bahwa masa klasik dibagi dalam pra klasik (1730-1760), klasik awal (1760-1780), dan klasik tinggi (1780-1820) Musik klasik ini ditandai dengan bentuk musik seperti opera klasik, opera buffa, opera comique, oratorio yang bekembang.Musisi ternama yang kita kenal adalah Mozart, Beethoven, Gluck dll. Musik gereja sendiri banyak memperoleh sumbangan baik gereja Katolik maupun Protestan.

Musik zaman romantis dikenal mulai abad 18, yaitu sebuah istilah untuk menggambarkan perasaan yang menonjol dalam berbagai aspek kesenian seperti pada musik. Pada zaman ini masih terdapat opera yang terus berkembang, drama musik, konser sebagai warisan dari zaman klasik. Musik gereja berkembang di Wina dalam tradisi Katolik, terkait dengan tantangan abad pencerahan oleh para pemikir di dalamnya. Dalam tradisi Katolik terdapat musik gereja, gerakan cecilianis, dan musik devosional. Sedangkan pada tradisi protestan terdapat nyanyian jemaat, musik gereja, paduan suara gereja yang dibarengi dengan berbagai alat musik yang digunakannya; organ, piano, dll.Para musisi di dalamnya adalah Franz Schubert, Robert Schuman, Anton Bruckner dll.

Musik Impresionis, istilah ini muncul dari kumpulan semiman di Paris, dengan aliran-aliran seni yang spontan, sebagai wujud dari sesuatu yang dilihat secara indah dan diwujudkan dalam benda atau karya seni. Hal yang menonjol adalah melodi dan harmoni. Komposer yang berkarya adalah Gabriel Fauré (1845-1924),

  • Musik Musik Zaman Modern (Abad 19- Abad 20)

Musik gereja abad 20 tampak dalam nyanyian jemaat sedikitnya memiliki dua unsur yang menonjol:

  1. Keagungan Tuhan, kemuliaan dalam ajaran Trinitas, syairnya terdapat makhluk-makhluk sorgawi dalam bahasa yang agung.Didominasi oleh musik Latin hingga abad-abad Pertengahan hingga memasuki zaman Reformasi .
  2. Mengandung pesan pementingan perilaku kesalehan manusia yang mulai terbuka, munculnya puritanisme, pietisme, ekspansi, spiritualisme yang memasukkan teologi kelompok tertentu (orang-orang kulit hitam) yang menjadi tema-tema yang dimasukkan ke dalamnya.

Perkembangan Musik Gereja dari waktu ke waktu

 

Musik dan ibadah dalam sebuah gereja bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Seiring dengan perkembangan jaman yang ada, musik juga mengalami berbagai macam perkembangan dari waktu ke waktu. Dari zaman music Gregorian, Renaissance, Barokh, Romantic,  hingga zaman sekarang yang sering disebut sebagai musik abad 21 atau musik kontemporer.

Mengapa musik juga mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan teknologi?

Didalam sebuah ibadah, musik pujian mengambil porsi sekitar 60-75% untuk membawa jemaat masuk menikmati hadirat Tuhan dan ketemu Tuhan secara pribadi. Ada statement yang mengatakan bahwa “bernyanyi memuji Tuhan itu sama dengan dua kali porsi dalam berdoa”. Didalam menaikkan pujian dan penyembahan kepada Tuhan, akan membawa kita kepada atmosfir surgawi sehingga Hamba Tuhan menyampaikan firman Tuhan kepada  jemaat akan dengan mudah menerima pewahyuan dan rhema yang disampaikan pengkhotbah.

Pada zaman permulaan (zaman Gregorian) musik pujian hanya boleh dinyanyikan oleh orang-orang tertentu saja. Dan pada saat itu musiknya masih monophonic atau 1 macam jenis suara saja. Kemudian memasuki zaman Renaissance mulai ada perkembangan akord dan penambahan ornamen sedikit demi sedikit. Memasuki zaman Barokh, Romantic mulai terlihat perubahan dari jenis musik monophonic ke polyphonic atau lebih dari 1 macam jenis suara dan mulai bervariasi arransemen musik yang digubah. Hingga akhirnya memasuki musik abad 21 atau musik kontemporer dapat kita lihat dengan bervariasinya perkembangan arransemen lagu seiring dengan perkembangan zaman yang ada.

Music Gereja

Mengapa musik abad 21 atau musik kontemporer ini terlihat berbeda dari musik-musik sebelumnya?

Perlu kita ketahui bersama bahwa untuk membuat sebuah lagu pada abad permulaan hingga sebelum abad 21, para musisi dunia menggunakan aturan-aturan yang ada dalam menggubah sebuah lagu antara lain dengan melihat interval atau jarak notasi yang boleh dipergunakan, walking chord (akord jalan) yang boleh dipakai dan masih banyak lagi aturan yang ada. Tetapi pada musik abad 21, musisi sekarang lebih condong kepada keindahan lagu dan kurang memperhatikan interval notasi dan akord yang lazim (ada banyak akord yang tidak lazim yang dipakai). Meski begitu, musik kontemporer tetap dapat dipakai untuk menyembah Tuhan dengan motivasi yang benar.

Musik sendiri sebenarnya lahir dari gereja dan diadopsi oleh dunia sekuler. Masih ingatkah kita, tentang Lucifer yaitu malaikat penyembah Tuhan, namun jatuh karena hendak menyamai Tuhan?. Ia mendirikan kerajaannya sendiri dan mempengaruhi seluruh system dunia, termasuk music. Oleh sebab itu , gereja harus mengambil alih music dan lagu-lagu pujian penyembahan hanya untuk Tuhan. Nanti akan kita bahas kemudian, bagaimana music gereja dapat mempengaruhi atau mengambil alih music dunia yang lirik-liriknya mengandung kekerasan sampai pengajakan untuk

Ps. Elisabeth Widya