If you’re Mac keeps running slowly There are many ways to correct the issue. First, you can launch the Activity Monitor to look the memory utilization issues. Choose the process you’re experiencing and click Quit. If the process is taking up excessive memory You can shut it down and restart it later. Alternatively, you can also make use of the System Memory tab to check if there are any other process that is slow operating in your Mac.

A CPU issue is another cause of slow performance on your Mac. If you’re running a program which is making use of CPU, it’s best to close it. Open Activity Monitor and click the “X” button beneath the buttons. It is possible to use Google to find apps that are consuming the most CPU power but you aren’t sure which ones. It will give you a pretty good idea of the apps that are making your Mac to slow down.

Your Mac could also be slowing down when it is loaded with too numerous applications. Your operating system will run slow if there speed my mac are too many programs. Make sure to delete any files aren’t being used or move the files to a different location. Launch Activity Monitor to see a list of running processes within your Mac. There should be a couple of errors – this is an indication that you’re running more than one application in parallel.

SQ | EQ | IQ

KESEHATAN

ISTIRAHAT
KESEHATAN
POLA HIDUP
MAKANAN SEHAT

MENJAGA KESEHATAN ADALAH BAGIAN DARI IMAN

Hati dan Penyakit Mental

Hati dan Penyakit Mental
By Pdm. Dr. Robert Agung, M.Pd.K.,D.Min

Yer 17:9 (TB) Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?
(KJV): The heart is deceitful above all things, and desperately wicked: who can know it?
(Hebrew): עָקֹ֥ב הַלֵּ֛ב מִכֹּ֖ל וְאָנֻ֣שׁ ה֑וּא מִ֖י יֵדָעֶֽנּוּ׃
(Trans): ‘aqov (licik) hallev (hati) mikkol (di atas segala sesuatu) we’anush (dan sangat durjana) hu’ (ialah) mi (siapa) yeda’ennu (bisa mengetahuinya)

Mengapa byk org bisa mengalami PENYAKIT MENTAL ?
Kita akan melihatnya dari PERSPEKTIF TEOLOGIS!

KUNCINYA: Krn tdk mampu MENJAGA HATI!
Ams 4:23 (TB) Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
(KJV): keep thy heart with all diligence; for out of it are the issues of life
(Hebrew): מִֽכָּל־ מִ֭שְׁמָר נְצֹ֣ר לִבֶּ֑ךָ כִּֽי־ מִ֝מֶּ֗נּוּ תּוֹצְא֥וֹת חַיִּֽים׃:
(Trans): mikal (dengan semua) mishmar (ketekunan) netsor (menjaga) libekha (hatimu) ki (karena) mimmennu (terpancar dari situ) tots’ot (masalah) khayyim (hidup)

Perhatikan kata “HATIMU” dalam teks Ibrani menggunakan kata לִבֶּ֑ךָ (Libekha)! לִבֶּ֑ךָ (Libekha) dari kata לֵב (Lev) artinya PIKIRAN, KEHENDAK, MANUSIA BATINIAH. Jadi לֵב (Lev) digunakan (secara kiasan) sangat luas untuk PERASAAN, KEMAUAN dan bahkan KECERDASAN (QUOTIENT / INTELLIGENCE)! Jadi jika berbicara menyangkut לֵב (Lev) yg diterjemahkan LAI sbg “hati”, maka sebenarnya kata לֵב (Lev) ini berhubungan dgn organ ”OTAK MANUSIA” dan bukan ORGAN JANTUNG. Dan kita tahu bhw otak manusia terbagi atas dua bagian yakni otak kiri yg menangani aspek pembelajaran yg sifatnya “akademik” spt proses bahasa dan matematis, pemikiran logis, sikuensi, dan analisis. Dan otak kanan yg menangani kegiatan “kreatif” menggunakan prosa, ritme, musik, impresi visual, warna dan gambar. (Berpikir metaforik mencari analogi dan pola).

Dalam Ams 24:10 (TB) dikatakan “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”
(KJV): If thou faint in the day of adversity, thy strenght is small
(Hebrew): הִ֭תְרַפִּיתָ בְּי֥וֹם צָרָ֗ה צַ֣ר כֹּחֶֽכָה׃
(Trans): Hitrappita ([jika] engkau lemah) beyom (di hari) tsarah (kesukaran) tsar (kecil) kochechah (kekuatanmu).
Tapi yang sangat menarik disini utk diperhatikan adl salah satu terjemahan versi ARAMAIC BIBLE IN PLAIN ENGLISH yg diterjemahkan sbg berikut: “Affliction will drive the evil in the day of distress.”(Penderitaan akan mendorong kejahatan pada hari kesukaran).
Pertanyaannya adl, mengapa tawar hati diterjemahkan oleh Aramaic Bible in Plain English sbg Affliction (Penderitaan)? Mari kita simak dari teks Hebrew!!! הִ֭תְרַפִּיתָ (Hitrappita) akar katanya adl רָפָה (raphah) yg artinya dalam konotasi negatif adl tenggelam (dlm ketakutan); dlm kiasan mutlak = kehilangan hati (hilang akal sehat), kehilangan energi (tidak berdaya). Jadi kata רָפָה (raphah) menunjukkan keadaan mengendur (dalam banyak aplikasi, literal atau kiasan). Nah, orang yg tawar hati adl orang yg tenggelam (dalam ketakutan) karena kehilangan akal sehat sehingga kadar imannya mjd kendur, dan ketika imannya kendur (goyah) ia akan melakukan hal2 yg tidak sesuai atau bertentangan dgn firman Tuhan (kejahatan)! Hal ini lah yg kemudian diterjemahkan oleh Aramaic Bible.
Mari kita lihat contohnya dalam kisah Alkitab (1 Samuel 17:1-11)! Kita baca keseluruhan dan kemudian kita FOKUS pada ayat 11 (TB) Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan.
(KJV): When Saul and all Israel heard those words of the Philistine, they were dismayed, and greatly afraid.
(Hebrew): וַיִּשְׁמַ֤ע שָׁאוּל֙ וְכָל־ יִשְׂרָאֵ֔ל אֶת־ דִּבְרֵ֥י הַפְּלִשְׁתִּ֖י הָאֵ֑לֶּה וַיֵּחַ֥תּוּ וַיִּֽרְא֖וּ מְאֹֽד׃
(Trans): wayyishma’ (Dan ketika didengar) Sha’ul (Saul) wekhal (dan segenap) yisra’el (Israel) et-divre (perkataan) happelishti (dari orang Filistin) ha’elleh (itu) wayyechattu (maka cemaslah hati mereka) wayyir’u (dan ketakutan) me’od (sangat).
Perhatikan kata (וַיֵּחַ֥תּוּ: wayyechattu), kata ini berasal dari kata חָתַת (chathath) yg artinya hancur, cemas hati. Dlm salah satu akar primitif, kata (חָתַת: chathath) dimaksudkan yakni BERSUJUD KRN DITINDAS OLEH KEBINGUNGAN DAN KETAKUTAN KRN AKAN DIHANCURKAN DGN KEKERASAN.
Jadi dr kata (חָתַת: chathath) ini dapat kita gambarkan bahwa Saul pada wkt itu bersembunyi dgn cara duduk berjongkok dgn lutut menyentuh tanah dan muka yg hampir juga menyentuh ke tanah (ketika melihat dan mendengar tantangan Goliat)!
Apa yg dilakukan oleh Saul ini, adalah suatu KEJAHATAN krn bertentangan dgn perintah dalam 613 מִצְווֹת (Mitswot). Dimana kita tahu dari 613 מִצְווֹת (Mitswot) ini dibagi mjd dua kategori yakni 248 מצות עשה – “MITSWOT ‘ASEH” (Perintah Positif) dan 365 מצות לא תעשה – “MITSWOT LO TA’ASEH” (Perintah negatif / larangan), dan Saul telah melanggar מִצְווֹת (Mitswot) yg salah satunya yakni Mitswot tentang perang yaitu nomor yg ke 598 “tdk takut atau panik dalam menghadapi musuh.”

PERTANYAANNYA ADL MENGAPA SAUL SAMPAI BISA BERTINDAK SPT ITU? Jawabannya adl “Krn secara PSIKOLOGI Saul sdh kalah!” Ia kalah krn PSYWAR, kalah krn TERINTIMIDASI!
Mengapa Saul bisa kalah scr Psikologi? Saul tdk dapat mengontrol emosinya (emosinya labil) krn kecerdasan emosinya (EQ) rendah! Daniel Goleman menjelaskan kecerdasan emosi (EQ) adl kemampuan utk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan org lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dgn baik pada diri sendiri dan dlm hubungan dgn org lain. Krn itu meskipun kecerdasan akademik (academic intelligence) / IQ tinggi, tetapi bila kecerdasan emosi (EQ) rendah, tdk byk membantu. Mengapa demikian? Penyebabnya adl pada sistem pengaman otak, stem system atau otak-reptil. Otak-reptil ini terletak di lapisan plg dlm dr otak. Pada situasi aman ia bekerja dgn normal, spt biasanya. Sdgkan pada situasi yg berbahaya, otak bekerja dgn sgt cepat, jantung berdegup lebih cepat, pernapasan lebih cepat, dan mengerahkan seluruh kekuatan utk melawan bahaya atau MELARIKAN DIRI UTK MENGHINDARI BAHAYA! Krn itu ketika dlm situasi terancam, otak-reptil akan memberontak. Beberapa hal yg termasuk mengancam otak-reptil adalah KETAKUTAN ATAU KECEMASAN (חָתַת: chathath). Dgn demikian Kecerdasan emosi (EQ) mencakup kemampuan2 yg berbeda, tetapi saling melengkapi dgn kecerdasan akademik (academic intelligence), yaitu kemampuan2 kognitif murni yg di ukur dgn IQ. Dua macam kecerdasan yg berbeda ini IQ dan EQ mengungkapkan aktivitas bagian2 yg berbeda dlm otak. Kecerdasan intelektual (IQ) terutama didasarkan pada kerja neokorteks, lapisan yg dlm evolusi berkembang paling akhir di bagian atas otak. Sdgkan pusat2 emosi berada di bagian otak yg lbh dlm, dlm subkorteks yg scr evolusi kuno; Kecerdasan emosi (EQ) dipengaruhi oleh kerja pusat2 emosi ini, tetapi dlm keselarasan dgn kerja pusat2 intelektual (IQ).

PERTANYAAN SELANJUTNYA ADL APA YG MEMBUAT EQ SEORG SAUL RENDAH SHG MEMBUATNYA MENGAMBIL TINDAKAN YG TDK MENUNJUKKAN SESEORG YG MEMILIKI INTELEKTUAL (IQ) YG BERKUALITAS? Krn sbg seorg pemimpin Saul tdk memiliki SQ (Spiritual Quotient) atau yg skrg oleh para pakar Psikologi diistilahkan SI (Spiritual intellegence) “KECERDASAN ROHANI!”
Mengapa SQ “Kecerdasan Rohani” begitu sgt penting?
PERTAMA; Kecerdasan intelektual (IQ) adl syarat minimum kompetensi. Sementara utk mencapai prestasi puncak, kecerdasan rohani (SQ) lebih besar berperan. Krn itu utk mencapai hasil istimewa, kecerdasan spiritual (SQ) perlu dikembangkan dgn optimal!
KEDUA; SQ adalah kecerdasan utk memahami dan memecahkan persoalan “makna” dan “nilai.” Kecerdasan utk menempatkan perilaku dan hidup dlm konteks kehidupan yg lebih kaya dan lebih luas, shg mampu menempatkan kehidupan seseorg mjd bermakna dan bernilai. Bentuk SQ yg mudah dipahami adalah “Nurani,” yg digunakan utk berhubungan (terkoneksi) dgn Tuhan, shg SQ berperan penting menggerakkan dan mengarahkan IQ (kecerdasan intelektual) dan EQ (kecerdasan emosional)!
Seorang ahli saraf USA yg bernama “Ramachandran”(Universitas California) telah menemukan “God Spot” (titik Tuhan) dlm otak manusia, yg mjd pusat Spiritual. Pusat spiritual yg terpasang ini terletak diantara hubungan2 saraf dalam cuping2 temporal otak. Melalui pengamatan terhadap otak dgn topografi-emisi-positron, area2 tersebut akan bersinar manakala subyek penelitian diarahkan utk mendiskusikan topik spiritual atau agama. Begitu juga dgn Dr. Dimitri Mahayana seorang guru besar di ITB, menunjukkan beberapa ciri orang ber-SQ tinggi. Beberapa diantaranya adalah memiliki PRINSIP dan VISI YG KUAT, mampu memaknai setiap sisi kehidupan, dan MAMPU MENGELOLA dan BERTAHAN DALAM KESULITAN DAN PENDERITAAN. Apa yang disampaikan oleh Dr. Dimitri Mahayana ini mengingatkan kita tentang adanya ungkapan yg menyatakan bahwa kesulitan dan penderitaan adl hadiah dari Tuhan bagi org yg dikasihi-Nya.
Dalam Roma 5:3-5 (TB) dikatakan; “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam HATI kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Dari kebenaran firman Tuhan ini kita dapat belajar bahwa penderitaan dan kesulitan mempunyai pengaruh menyempurnakan, mengganti, dan mengubah. Penderitaan dan kesukaran dapat mengubah sesuatu yg lemah mjd kuat, yg rendah mjd tinggi, dan mentah mjd matang. Penderitaan dan kesukaran mempunyai karakteristik menjernihkan, menghilangkan berbagai kotoran dan kekeruhan. Ujian penderitaan dan kesukaran juga bermakna membuat sesuatu layak menerima karunia lbh tinggi. Pada saat kecakapan seseorg akan meningkat, byk ujian yg hrs dilaluinya. Bagi yg tdk mampu melewati penderitaan dan kesulitan, ia tdk layak naik tingkat. Dgn penderitaan dan kesukaran menumbuhkembangkan dimensi spiritual manusia. Dgn penderitaan dan kesukaran, SQ lebih tajam dan matang. SQ mampu mentransformasikan kesukaran mjd suatu medan penyempurnaan dan pendidikan spiritual yg bermakna. Semakin byk kesukaran semakin mematangkan SQ. Dgn demikian SQ justru memicu seseorg maju, ketika yg lainnya mundur.
Krn itu sangat penting bagi seseorang untuk memiliki dan mengaplikasikan KECERDASAN SQ! Mengapa? PERTAMA; Krn Kecerdasan intelegensi (IQ) dapat menghasilkan gagasan atau ide yg brilian dan rencana yg bagus. Tetapi realisasi dr gagasan/ide, dan keterlaksanaan rencana yg bagus tsb, sgt kuat dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (EQ). Dan apakah prosesnya dan hasilnya mengandung nilai2 kebenaran dan kebaikan, sgt kuat dipengaruhi kecerdasan rohani (SQ). KEDUA; Kecerdasan emosi (EQ) dpt mendorong kecerdasan intelegensi (IQ) menganalisis masalah dan menghasilkan alternatif pemecahan masalah scr kreatif. Dan dgn menggunakan kecerdasan rohani (SQ) dlm proses pengambilan keputusan, akan diperoleh keputusan yg terbaik. KETIGA; Ketidakmampuan mengelola emosi (dlm keadaan emosional), dpt merusak kecerdasan intelegensi. Tetapi pd saat kecerdasan spiritual (SQ) terganggu, maka kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan intelegensi (IQ) akan sulit berperan scr efektif!

Permasalahan terbesar Saul dalam hidupnya adalah tidak memiliki SQ (kecerdasan rohani) yg digunakan utk berhubungan (terkoneksi) dgn Tuhan, shg IQ (intelligence quotient) “kecerdasan intelektual” dan EQ (emotional quotient) “kecerdasan emosional” nya begitu buruk dan bermasalah!
Bgmn bisa Saul tdk memiliki SQ (kecerdasan rohani) sdgkan kita tahu bahwa Samuel telah mengurapinya? Krn Saul tidak tunduk pada מִצְווֹת (Mitswot) dan bahkan melanggarnya juga, yakni Mitswot nomor yg ke 587 tentang raja yg berbunyi “seorg raja hrs menulis sendiri hukum Taurat dan jika ada orang lain yg akan menulis, maka ia hrs menulis dua kali.”
Mengapa seorang raja Israel diperintahkan utk menulis salinan hukum Taurat? Tujuannya adl spy mjd habit agar hukum2 Tuhan selalu dibacakan dan direnungkan utk diingat krn tersimpan dalam לֵב (Lev [Pikiran] / ORGAN OTAK – HIPPOCAMPUS) shg terbentuk karakter agar tidak menyimpang dari jalan Tuhan! Saul adl tipe pemimpin tanpa SQ shg mengalami penyakit mental yg tercermin dr EQ yg labil shg mempengaruhi IQ nya dgn bertindak bodoh yg menjatuhkan wibawanya terlebih wibawa dan nama baik Tuhan! Sebab pertempuran Israel melawan bangsa2 Kanaan sesungguhnya menandakan pertempuran antara Allah Israel melawan dewa2 Kanaan!

NB: SEORANG PEMIMPIN YG BAIK ADALAH SEORANG PEMIMPIN YG MEMPERLENGKAPI DIRINYA DGN, SQ, EQ, DAN IQ, SPY MELALUI HIDUPNYA TUHAN DIPERMULIAKAN!

אָמֵן — ‘amen

Daftar Pustaka:

Aramaic Bible in Plain English
Kecerdasan Quantum