EVENTS

Share Your Experiences to be great events in your life

 

View MenuReservation

Our Story

Hari Penghapusan Perbudakan Intenasional

 Perbudakan merupakan salah satu bagian dari sejarah kelam umat manusia. Istilah ini mengacu pada pengendalian seseorang oleh orang lain secara paksa. Perbudakan biasanya terjadi untuk memenuhi kebutuhan akan buruh, tenaga kerja, atau bahkan kegiatan seksual

Pada 2 Desember 1949, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menyetujui Konvensi Pemberantasan Perdagangan Manusia dan Eksploitasi Pelacuran. Tanggal tersebut kemudian dikenal sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Perbudakan. Konvensi tersebut tidak kehilangan relevansinya hingga hari ini.

“Sementara banyak kemajuan telah dicapai dalam hal memahami perbudakan modern dan kekuatan pendorong di baliknya, jalannya masih sangat panjang jika ingin mengakhiri itu untuk selamanya,” kata CEO Anti-Slavery International, Jasmine O’Connor, kepada DW. “Jutaan orang di seluruh dunia hidup dalam perbudakan, dan tekanan yang meningkat membuat banyak orang lebih rentan terhadap penipuan para pedagang (manusia).”

Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO), 40 juta orang menjadi korban perbudakan modern pada 2016 dan satu dari empat adalah anak-anak. Meskipun perbudakan modern tidak didefinisikan secara hukum, hal ini sering digunakan sebagai istilah umum untuk praktik-praktik seperti kerja paksa, ijon, pernikahan paksa, perdagangan manusia, dan perekrutan paksa anak-anak dalam konflik bersenjata. Hal itu paling banyak terjadidi Afrika, diikuti oleh Asia-Pasifik

 

Only the Best

“Sadari Dengan Perbudakan Masa Kini !”

Gadget telah memperbudak manusia “Waspada”

Gadget selama ini dikenal sebagai Artificial Intelligence (AI) yang sengaja diartikan sebagai kecerdasan buatan untuk memanipulasi pemahaman kita, agar manusia tidak menyadari bahwa gadget yang selalu melekat ditangan kita setiap hari sesungguhnya adalah teknologi pengintai yang digunakan oleh mereka sebagai pengganti manusia seperti pada saat perang fisik dulu untuk menyusup ke wilayah musuh dan mengintai kondisi kekuatan dan kelemahan lawan demi mendapatkan informasi yang sebanyak-banyaknya untuk digunakan dalam mempersiapkan penyerangan pada saat yang tepat.

Jadi Gadget ini juga sekaligus digunakan untuk memanipulasi pola pikir (mindset) kita, karena opini yang dibangun adalah untuk memanjakan manusia dengan kemudahan, kecepatan dan kenyamanan yang akan membuat kita terlena dan terjebak dalam zona nyaman ( comfort zone), sehingga kita tidak menyadari lagi bahwa sebenarnya gadget itu adalah alat pengintai untuk menguasai kejiwaan manusia. Jadi Gadget ini adalah tehnologi pengintai yang digunakan pada perang non-fisik saat ini. Ingatlah kata-kata “ Siapa yang menguasai informasi, dia yang akan menguasai Dunia“.

Hanya dalam Yesus ada kemerdekaan

Kabar Baik dari Injil adalah bahwa Yesus mati dan bangkit kembali agar kita bebas dan merdeka dari dosa. Dosa adalah kuasa yang memperbudak. Dari sejak awal, dosa Adam dan Hawa menjadi dosa semua umat manusia (Rm. 5:12). Akibatnya, terlahir sebagai keturunan Adam berarti terlahir dalam perbudakan dosa. Ini seperti kejahatan besar perbudakan manusia yang kita lihat dalam sejarah; salah satu tragedi sistem perbudakan Amerika adalah bahwa anak-anak yang lahir dari budak adalah budak juga. Tetapi Kristus mematahkan kutukan dosa di dalam Adam dan dengan demikian memerdekakan keturunan Adam (ay. 19).

Tidak lagi menjadi budak dosa, melainkan sekarang menjadi hamba kebenaran. Tidak lagi terikat oleh kuk perhambaan, melainkan sekarang merdeka di dalam Kristus. Meski demikian, kemerdekaan itu selalu diserang.